MEMBANGUN MASA DEPAN ANAK
SEBAGAI TANGGUNGJAWAB BERSAMA
Oleh: Fachrur Rizal
Hadirin para jema’ah yang di rahmati oleh Allah Swt.
Dewasa ini, kita semua merasa prihatin dengan
terjadinya kerusakan moral dan akhlak di kalangan generasi
muda kita, seperti semakin maraknya aksi tawuran, minum-minuman
keras, menkonsumsi NARKOBA, pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi, dan
berbagai prilaku menyimpang lainnya. Para orangtua, hendaknya merasa khawatir
kalau kondisi ini akan terjadi kepada anak-anaknya. Para orangtua mestinya
bertanya, dengan siapa anaknya bergaul?, kemana mereka pergi? dan apa yang
mereka lakukan di luar sana?. Sebab sudah begitu banyak generasi muda kita yang
menjadi korban penyakit HIV/AIDS, hamil di luar nikah, melakukan praktik
aborsi/menggugurkan kandungan, dan bayi-bayi lahir tanpa status hukum yang
jelas, siapa yang menjadi walinya dan bagaimana hak warisnya nanti. Belum lagi
setelah besar nanti mereka akan mempunyai beban psikologis dengan mendapat
stigma sebagai anak haram atau anak gampang. Hadirin yang mulia, hal ini tidak
boleh terjadi pada anak-anak. Karena jika terjadi, maka hancurlah kehidupan dan
harapan masa depan mereka.
Hadirin yang mulia, baru-baru ini, saya mendapat informasi dari
seorang teman, bahwa setiap harinya tidak kurang dari 3 sampai 4 orang pelajar
setingkat SMP/SMA yang berobat ke rumahnya karena penyakit spilis/kelamin.
Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ada sekelompok anak pelajar yang
patungan menyewa rumah kontrakan, kemudian mereka melakukan pesta seks secara
bergiliran terhadap teman perempuannya. Hadirin yang mulia, kasus ini
sudah terjadi di daerah kita, dan ini merupakan fenomena “gunung es”, baru
sedikit kasus yang terungkap ke permukaan, tetapi jumlah yang sesungguhnya jauh
lebih besar dan lebih mengerikan lagi. Na’uzubillah min zaalik.
Hadirin yang mulia, ada tanggungjawab yang besar dipundak
kita semua, untuk menentukan ke arah mana masa depan mereka akan kita
bawa. Kita harus menyadari, bahwa mereka adalah aset sekaligus
investasi masa depan. Mempersiapkan mereka berarti mempersiapkan masa
depan masyarakat, bangsa dan Negara kita. Oleh karena itu, kita harus
mempersiapkan mereka sejak dini, karena kuat atau tidaknya generasi yang akan
datang, sangat bergantung pada seberapa besar kita mampu meletakkan pondasi dan
kerangka bangunan anak sehingga tidak digilas dan tertindas oleh arus perubahan
zaman yang semakin mencenkram dan menakutkan. Sebab jika tidak,
maka kita akan kehilangan satu generasi, dan itu berarti
sebagai pertanda kematian obor kehidupan di masa yang akan datang.
Hadirin yang mulia, sebenarnya hal-hal seperti itu tidak perlu kita
khawatirkan jika anak-anak sudah kita bentengi dengan nilai-nilai keimanan,
ketaqwaan, dan akhlak yang mulia. Disinilah pentingnya pendidikan agama untuk
diberikan kepada mereka sejak usia dini, baik melalui lembaga
pendidikan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat. Keluarga adalah lembaga
pendidikan yang pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian anak.
Sebab di dalam keluargalah nilai dan norma agama pertama kali diberikan kepada anak.
Sadarilah, bahwa anak merupakan amanah (titipan) Allah agar para orangtua
membesarkan, sekaligus mendidiknya menjadi manusia yang taat, patuh dan mampu menjadi
khalifah Allah di muka bumi. Allah Swt. memperingatkan kepada kita selaku
orangtua sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
benar.” (An-Nisa’ [04]: 9).
Hadirin yang mulia, dalam banyak kasus, prilaku menyimpang pada anak, sering kali terjadi disebabkan oleh ketidakwaspadaan orangtua untuk
menjaga fitrah keberagamaan anak. Apalagi dengan kondisi keluarga yang berantakan, lemahnya pengawasan, kurangnya perhatian dan kasih
sayang, serta tidak adanya keteladanan orangtua, tentu akan menyebabkan anak
semakin kehilangan pegangan, kendali, dan
arah yang berakibat pada tindakan-tindakan
yang menyimpang dan menyesatkan. Para orangtua, selainberkewajiban memberikan pengetahuan dan pemahaman
agama, juga memberikan bimbingan dan keteladanan kepada
anak dalam mengamalkan ajaran agamanya. Para orangtua pun hendaknya
berhati-hati, dengan selalu memberikan nasehat,
mengawasiserta membatasi pergaulannya jangan sampai anak-anak ikut
terjerumus, termasuk dari pengaruh teknologi dan informasi
yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Itulah sebabnya Allah
memperingatkan kepada kita sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka....” (At-Tahriim [66]: 6).
Hadirin yang mulia, selain di lingkungan keluarga, sekolah harus mampu menciptakan suasana yang
mendukung bagi terselenggaranya pendidikan agama yang efektif, serta adanya
keterpaduan antara asfek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Pendidikan
agama tidak boleh hanya dibebankan kepada guru agama semata, tetapi harus
menjadi tugas dan tanggungjawab bersama antara kepala sekolah dan
semua dewan guru. Seorang guru tidak hanya memberikan atau menyampaikan materi
semata, akan tetapi seorang guru harus mampu memberikan pesan-pesan moral yang
dapat membangkitkan dan merubah prilaku, akhlak dan budi pekerti seorang anak. Agar
menjadi seorang anak yang dapat patuh dan taat terhadap orang tua, guru dan
masyarakat khususnya.
Hadirin yang mulia, demikian pula dengan masyarakat, harus memiliki
kepedulian terhadap segala hal yang positif dan dibutuhkan oleh anak dalam
proses pembentukan kepribadiannya, dan sekaligus mampu memberikan kontrol yang
ketat serta berupaya untuk mengatasi terhadap segala kemungkinan yang akan
berakibat buruk bagi anak. Minimnya pendidikan agama yang diberikan oleh orangtua di
dalam keluarga, serta terbatasnya waktu dan pelayanan pendidikan agama yang diberikan di sekolah, hendaknya harus diimbangi pula
dengan upaya peningkatan pendidikan agama di dalam masyarakat.
Hadirin yang mulia, dengan kerjasama yang baik antara orangtua, sekolah,
dan masyarakat, serta dukungan yang maksimal dari pemerintah, maka insyaAllah
kita akan mampu mencetak generasi emas, yaitu anak-anak yang cerdas
intlegensinya, cerdas emosionalnya, dan cerdas spiritualnya. Sehingga pada
saatnya nanti mereka akan mampu menjadi pemimpin yang tangguh,
berkualitas, dan berkarakter.
Hadirin yang mulia, akhirnya, semoga Allah selalu memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita semua, dalam mengemban
amanah yang sangat mulia ini. Amiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar