Jumat, 24 April 2015

ANAK TANGGUNG JAWAB BERSAMA



MEMBANGUN MASA DEPAN ANAK
SEBAGAI TANGGUNGJAWAB BERSAMA
Oleh: Fachrur Rizal

Hadirin para jema’ah yang di rahmati oleh Allah Swt.
Dewasa ini, kita semua merasa prihatin dengan terjadinya kerusakan moral dan akhlak di kalangan generasi muda kita, seperti semakin maraknya aksi tawuran, minum-minuman keras, menkonsumsi NARKOBA, pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi, dan berbagai prilaku menyimpang lainnya. Para orangtua, hendaknya merasa khawatir kalau kondisi ini akan terjadi kepada anak-anaknya. Para orangtua mestinya bertanya, dengan siapa anaknya bergaul?, kemana mereka pergi? dan apa yang mereka lakukan di luar sana?. Sebab sudah begitu banyak generasi muda kita yang menjadi korban penyakit HIV/AIDS, hamil di luar nikah, melakukan praktik aborsi/menggugurkan kandungan, dan bayi-bayi lahir tanpa status hukum yang jelas, siapa yang menjadi walinya dan bagaimana hak warisnya nanti. Belum lagi setelah besar nanti mereka akan mempunyai beban psikologis dengan mendapat stigma sebagai anak haram atau anak gampang. Hadirin yang mulia, hal ini tidak boleh terjadi pada anak-anak. Karena jika terjadi, maka hancurlah kehidupan dan harapan masa depan mereka.

Hadirin yang mulia, baru-baru ini, saya mendapat informasi dari seorang teman, bahwa setiap harinya tidak kurang dari 3 sampai 4 orang pelajar setingkat SMP/SMA yang berobat ke rumahnya karena penyakit spilis/kelamin. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ada sekelompok anak pelajar yang patungan menyewa rumah kontrakan, kemudian mereka melakukan pesta seks secara bergiliran terhadap teman perempuannya. Hadirin yang mulia, kasus ini sudah terjadi di daerah kita, dan ini merupakan fenomena “gunung es”, baru sedikit kasus yang terungkap ke permukaan, tetapi jumlah yang sesungguhnya jauh lebih besar dan lebih mengerikan lagi. Na’uzubillah min zaalik.

Hadirin yang mulia, ada tanggungjawab yang besar dipundak kita semua, untuk menentukan ke arah mana masa depan mereka akan kita bawa. Kita harus menyadari, bahwa mereka adalah aset sekaligus investasi masa depan. Mempersiapkan mereka berarti mempersiapkan masa depan masyarakat, bangsa dan Negara kita. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan mereka sejak dini, karena kuat atau tidaknya generasi yang akan datang, sangat bergantung pada seberapa besar kita mampu meletakkan pondasi dan kerangka bangunan anak sehingga tidak digilas dan tertindas oleh arus perubahan zaman yang semakin mencenkram dan menakutkan. Sebab jika tidak, maka kita akan kehilangan satu generasi, dan itu berarti sebagai pertanda kematian obor kehidupan di masa yang akan datang.

Hadirin yang mulia, sebenarnya hal-hal seperti itu tidak perlu kita khawatirkan jika anak-anak sudah kita bentengi dengan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, dan akhlak yang mulia. Disinilah pentingnya pendidikan agama untuk diberikan kepada mereka sejak usia dini, baik melalui lembaga pendidikan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat. Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian anak. Sebab di dalam keluargalah nilai dan norma agama pertama kali diberikan kepada anak. Sadarilah, bahwa anak merupakan amanah (titipan) Allah agar para orangtua membesarkan, sekaligus mendidiknya menjadi manusia yang taat, patuh dan mampu menjadi khalifah Allah di muka bumi. Allah Swt. memperingatkan kepada kita selaku orangtua sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisa’ [04]: 9).

Hadirin yang mulia, dalam banyak kasus, prilaku menyimpang pada anak, sering kali terjadi disebabkan oleh ketidakwaspadaan orangtua untuk menjaga fitrah keberagamaan anak. Apalagi dengan kondisi keluarga yang berantakan, lemahnya pengawasan, kurangnya perhatian dan kasih sayang, serta tidak adanya keteladanan orangtua, tentu akan menyebabkan anak semakin kehilangan pegangan, kendali, dan arah yang berakibat pada tindakan-tindakan yang menyimpang dan menyesatkan. Para orangtua, selainberkewajiban memberikan pengetahuan dan pemahaman agama, juga memberikan bimbingan dan keteladanan kepada anak dalam mengamalkan ajaran agamanya. Para orangtua pun hendaknya berhati-hati, dengan selalu memberikan nasehat, mengawasiserta membatasi pergaulannya jangan sampai anak-anak ikut terjerumus, termasuk dari pengaruh teknologi dan informasi yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Itulah sebabnya Allah memperingatkan kepada kita sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka....” (At-Tahriim [66]: 6).

Hadirin yang mulia, selain di lingkungan keluarga, sekolah harus mampu menciptakan suasana yang mendukung bagi terselenggaranya pendidikan agama yang efektif, serta adanya keterpaduan antara asfek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Pendidikan agama tidak boleh hanya dibebankan kepada guru agama semata, tetapi harus menjadi tugas dan tanggungjawab bersama antara kepala sekolah dan semua dewan guru. Seorang guru tidak hanya memberikan atau menyampaikan materi semata, akan tetapi seorang guru harus mampu memberikan pesan-pesan moral yang dapat membangkitkan dan merubah prilaku, akhlak dan budi pekerti seorang anak. Agar menjadi seorang anak yang dapat patuh dan taat terhadap orang tua, guru dan masyarakat khususnya.

Hadirin yang mulia, demikian pula dengan masyarakat, harus memiliki kepedulian terhadap segala hal yang positif dan dibutuhkan oleh anak dalam proses pembentukan kepribadiannya, dan sekaligus mampu memberikan kontrol yang ketat serta berupaya untuk mengatasi terhadap segala kemungkinan yang akan berakibat buruk bagi anak. Minimnya pendidikan agama yang diberikan oleh orangtua di dalam keluarga, serta terbatasnya waktu dan pelayanan pendidikan agama yang diberikan di sekolah, hendaknya harus diimbangi pula dengan upaya peningkatan pendidikan agama di dalam masyarakat.

Hadirin yang mulia, dengan kerjasama yang baik antara orangtua, sekolah, dan masyarakat, serta dukungan yang maksimal dari pemerintah, maka insyaAllah kita akan mampu mencetak generasi emas, yaitu anak-anak yang cerdas intlegensinya, cerdas emosionalnya, dan cerdas spiritualnya. Sehingga pada saatnya nanti mereka akan mampu menjadi pemimpin yang tangguh, berkualitas, dan berkarakter.

Hadirin yang mulia, akhirnya, semoga Allah selalu memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita semuadalam mengemban amanah yang sangat mulia ini. Amiin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar