“Waktu adalah Kesempatan”
Oleh: Fachrur Rizal
Saudara-saudara se-iman, sangat
menarik kalau kita mengkaji isi kandungan Al-Qur’an, surah Al-Asyr [103]: 1-3:
Dalam surah ini Allah mengawali dengan sumpah-Nya:
“Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” Ayat ini mengingatkan kita betapa pentingnya
“waktu”. Karena waktu bisa menentukan nasib seseorang, sukses atau tidaknya
seseorang tergantung bagaimana dirinya menyikapi waktu. Orang yang memandang waktu laksana uang, maka hidupnya akan selalu
disibukkan untuk memperoleh uang atau harta. Demikian juga orang yang memandang waktu laksana pedang
maka ia akan selalu berusaha
untuk menggunakan waktu agar tidak melukai dirinya
sendiri. Tetapi bagi orang yang memandang waktu sebagai anugerah, maka
ia akan sibukkan hidupnya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Waktu adalah kesempatan. Seseorang bisa beruntung apabila ia mampu memamfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya, dan sebaliknya ia akan rugi apabila waktu yang ada disia-siakan
begitu saja. Waktu tidak akan kembali lagi, dan andaikata waktu bisa kita putar
kembali tentu kita akan berusaha untuk memperbaiki perbuatan kita yang salah,
dan akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi.
Ikhwani Fillah, sungguh sangat
disayangkan apabila umur, kesehatan, jabatan, kedudukan, dan harta yang
dianugerahkan oleh Allah tetapi disia-siakan dan tidak menjadikan amal sholeh
kita bertambah. Padahal, andaikan orang yang sudah tua bisa mengembalikan usia
mudanya lagi, tentu ia akan memamfaatkan usia mudanya itu untuk melakukan hal
yang terbaik untuk masa tuanya. Andaikan orang yang sudah sakit bisa mengembalikan
waktu sehatnya, tentulah ia akan pergunakan waktu sehatnya itu untuk
mengerjakan amal sholeh. Andaikan orang yang sibuk bisa mengembalikan waktu sempatnya, pastilah ia akan
memamfaatkan waktu sempatnya itu untuk berbuat kebajikan. Andaikan seorang yang
sudah tidak mempunyai jabatan bisa mengembalikan waktu seperti ketika mempunyai
jabatan dulu, pastilah ia akan menggunakan jabatannya itu untuk kepentingan
orang banyak. Andaikan orang yang sudah miskin bisa mengembalikan waktu kayanya
dulu, tentu ia akan memamfaatkan harta kekayaannya itu untuk berzakat, berinfaq
dan bershadakah. Dan andaikan orang yang sudah matipun bisa hidup kembali,
tentu ia akan bertaubat dan beribadah kepada Allah Swt sebanyak-banyaknya. Tetapi sayang, waktu tidak akan bisa kita
putar lagi, maka ada pepatah mengatakan: “sesal kemudian tiada berguna”.
Saudara-saudara, Rasulullah
Saw. Menegaskan bahwa: “orang yang beruntung itu apabila hidupnya hari ini
lebih baik dari hari kemaren, orang yang rugi apabila hidupnya hari ini sama
dengan hari kemaren, dan orang yang celaka apabila hidupnya hari ini lebih
buruk dari hari kemaren.”
Pada ayat yang ke-3 Allah menegaskan:
bahwa kecuali yang beruntung itu hanya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal sholeh. Mengapa demikian? karena hanya orang-orang yang
berimanlah yang akan selalu menjadikan waktu itu sangat berharga dan tidak
menyia-nyiakannya, sehingga waktu hidupnya penuh dengan amal sholeh.
Hadirin yang mulia, iman dan amal sholeh adalah ibaratkan dua sisi
mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang baru dikatakan beriman apabila
keimanannya itu dibuktikan dengan mengejakan amal sholeh, dan sebaliknya suatu
amal atau perbuatan baru dikatakan sebagai amal sholeh apabila dilandasi dengan
keimanan yang mantap. Dengan landasan iman maka sholat yang kita kerjakan akan
menjadi amal sholeh dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt., demikian juga
dengan zakat, puasa, haji, dan ibadah apapun namanya, semuanya akan menjadi
amal sholeh dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Tetapi jika setiap amal
perbuatan tidak dilandasi dengan iman, maka semuanya akan sia-sia dan tidak
dipandang sedikitpun oleh Allah Swt.
Ikhwani Fillah, kemudian ayat berikutnya Allah menegaskan:
bahwa orang yang beruntung selain beriman dan
mengejakan amal sholeh, juga saling memberi nasehat supaya menta’ati kebenaran
dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. Mengapa kita harus saling menasehati dalam
mentaati kebenaran? Karena manusia itu mempunyai sifat salah dan khilaf.
Apalagi kadar
iman itu bisa naik dan bisa juga turun, begitu juga dengan amal sholeh bisa bertambah dan bisa juga berkurang. Ketika iman naik maka amal sholehpun akan bertambah, dan sebaliknya ketika iman turun maka amal sholeh-pun akan berkurang. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling mengingatkan
atau saling menasehati sehingga kita selalu istiqomah dalam keimanan dan
istiqomah dalam mengerjakan amal sholeh. Tentu saja yang mengingatkan harus
dengan cara yang santun, arif dan bijaksana, dan sebaliknya yang diingatkanpun
harus ikhlas dan menerima dengan lapang dada.
Hadirin yang mulia, selain itu, kita juga harus saling
menasehati supaya menetapi kesabaran. Karena tidak sedikit orang kemudian menjadi prustasi disebabkan oleh musibah yang
menimpa dirinya dan/atau keluarganya. Dalam kondisi seperti ini ada kecenderungan imannya akan
“melemah”, dan jika imannya melemah maka amal sholehnyapun akan berkurang. Oleh karena itu disinilah pentingnya kita
selalu memberikan nasehat agar menghadapi musibah itu dengan kesabaran,
sehingga apapun cobaan atau ujian yang menimpanya akan diserahkan sepenuhnya
kepada Allah Swt.
Hadirin
yang mulia, semuanya kembali kepada
diri kita masing-masing, apakah kita ingin menjadi orang yang selalu berada
dalam kerugian, atau ingin menjadi orang uang beruntung dalam hidup ini. Jika
kita ingin menjadi orang yang beruntung, maka mamfa’atkanlah waktu untuk selalu
meningkatkan iman dan amal sholeh, saling memberi nasehat untuk mentaati
kebenaran dan saling memberi nasehat untuk menetapi kesabaran. Akhirnya, semoga
Allah selalu memberikan
petunjuk dan bimbingannya kepada kita semua, sehingga sisa-sisa hidup kita ini
lebih bermanfaat dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt.
(Khoirunnas ‘Anfa’uhum Linnas)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar