Jumat, 24 April 2015

TIME IS IMPORTANT



“Waktu adalah Kesempatan”
Oleh: Fachrur Rizal

Saudara-saudara se-iman, sangat menarik kalau kita mengkaji isi kandungan Al-Qur’an, surah Al-Asyr [103]: 1-3:
Dalam surah ini Allah mengawali dengan sumpah-Nya:
 “Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Ayat ini mengingatkan kita betapa pentingnya “waktu”. Karena waktu bisa menentukan nasib seseorang, sukses atau tidaknya seseorang tergantung bagaimana dirinya menyikapi waktu. Orang yang memandang waktu laksana uang, maka hidupnya akan selalu disibukkan untuk memperoleh uang atau harta. Demikian juga  orang yang memandang waktu laksana pedang maka ia akan selalu berusaha untuk menggunakan waktu agar tidak melukai dirinya sendiri. Tetapi bagi orang yang memandang waktu sebagai anugerah, maka ia akan sibukkan hidupnya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Waktu adalah kesempatan. Seseorang bisa beruntung apabila ia mampu memamfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, dan sebaliknya ia akan rugi apabila waktu yang ada disia-siakan begitu saja. Waktu tidak akan kembali lagi, dan andaikata waktu bisa kita putar kembali tentu kita akan berusaha untuk memperbaiki perbuatan kita yang salah, dan akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Ikhwani Fillah, sungguh sangat disayangkan apabila umur, kesehatan, jabatan, kedudukan, dan harta yang dianugerahkan oleh Allah tetapi disia-siakan dan tidak menjadikan amal sholeh kita bertambah. Padahal, andaikan orang yang sudah tua bisa mengembalikan usia mudanya lagi, tentu ia akan memamfaatkan usia mudanya itu untuk melakukan hal yang terbaik untuk masa tuanya. Andaikan orang yang sudah sakit bisa mengembalikan waktu sehatnya, tentulah ia akan pergunakan waktu sehatnya itu untuk mengerjakan amal sholeh. Andaikan orang yang sibuk bisa mengembalikan waktu sempatnya, pastilah ia akan memamfaatkan waktu sempatnya itu untuk berbuat kebajikan. Andaikan seorang yang sudah tidak mempunyai jabatan bisa mengembalikan waktu seperti ketika mempunyai jabatan dulu, pastilah ia akan menggunakan jabatannya itu untuk kepentingan orang banyak. Andaikan orang yang sudah miskin bisa mengembalikan waktu kayanya dulu, tentu ia akan memamfaatkan harta kekayaannya itu untuk berzakat, berinfaq dan bershadakah. Dan andaikan orang yang sudah matipun bisa hidup kembali, tentu ia akan bertaubat dan beribadah kepada Allah Swt sebanyak-banyaknya. Tetapi sayang, waktu tidak akan bisa kita putar lagi, maka ada pepatah mengatakan: “sesal kemudian tiada berguna”.

Saudara-saudara, Rasulullah Saw. Menegaskan bahwa: “orang yang beruntung itu apabila hidupnya hari ini lebih baik dari hari kemaren, orang yang rugi apabila hidupnya hari ini sama dengan hari kemaren, dan orang yang celaka apabila hidupnya hari ini lebih buruk dari hari kemaren.”
Pada ayat yang ke-3 Allah menegaskan:

bahwa kecuali yang beruntung itu hanya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh. Mengapa demikian? karena hanya orang-orang yang berimanlah yang akan selalu menjadikan waktu itu sangat berharga dan tidak menyia-nyiakannya, sehingga waktu hidupnya penuh dengan amal sholeh.

Hadirin yang mulia, iman dan amal sholeh adalah ibaratkan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang baru dikatakan beriman apabila keimanannya itu dibuktikan dengan mengejakan amal sholeh, dan sebaliknya suatu amal atau perbuatan baru dikatakan sebagai amal sholeh apabila dilandasi dengan keimanan yang mantap. Dengan landasan iman maka sholat yang kita kerjakan akan menjadi amal sholeh dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt., demikian juga dengan zakat, puasa, haji, dan ibadah apapun namanya, semuanya akan menjadi amal sholeh dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Tetapi jika setiap amal perbuatan tidak dilandasi dengan iman, maka semuanya akan sia-sia dan tidak dipandang sedikitpun oleh Allah Swt.

Ikhwani Fillah, kemudian ayat berikutnya Allah menegaskan:
bahwa orang yang beruntung selain beriman dan mengejakan amal sholeh, juga saling memberi nasehat supaya menta’ati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. Mengapa kita harus saling menasehati dalam mentaati kebenaran? Karena manusia itu mempunyai sifat salah dan khilaf. Apalagi kadar iman itu bisa naik dan bisa juga turun, begitu juga dengan amal sholeh bisa bertambah dan bisa juga berkurang. Ketika iman naik maka amal sholehpun akan bertambah, dan sebaliknya ketika iman turun maka amal sholeh-pun akan berkurang. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling mengingatkan atau saling menasehati sehingga kita selalu istiqomah dalam keimanan dan istiqomah dalam mengerjakan amal sholeh. Tentu saja yang mengingatkan harus dengan cara yang santun, arif dan bijaksana, dan sebaliknya yang diingatkanpun harus ikhlas dan menerima dengan lapang dada.

Hadirin yang mulia, selain itu, kita juga harus saling menasehati supaya menetapi kesabaran. Karena tidak sedikit orang kemudian menjadi prustasi disebabkan oleh musibah yang menimpa dirinya dan/atau keluarganya. Dalam kondisi seperti ini ada kecenderungan imannya akan “melemah”, dan jika imannya melemah maka amal sholehnyapun akan berkurang. Oleh karena itu disinilah pentingnya kita selalu memberikan nasehat agar menghadapi musibah itu dengan kesabaran, sehingga apapun cobaan atau ujian yang menimpanya akan diserahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

Hadirin yang mulia, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita ingin menjadi orang yang selalu berada dalam kerugian, atau ingin menjadi orang uang beruntung dalam hidup ini. Jika kita ingin menjadi orang yang beruntung, maka mamfa’atkanlah waktu untuk selalu meningkatkan iman dan amal sholeh, saling memberi nasehat untuk mentaati kebenaran dan saling memberi nasehat untuk menetapi kesabaran. Akhirnya, semoga Allah selalu memberikan petunjuk dan bimbingannya kepada kita semua, sehingga sisa-sisa hidup kita ini lebih bermanfaat dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt.
(Khoirunnas ‘Anfa’uhum Linnas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar